SMA 6 dan Wartawan Akhirnya Berdamai
Wartawan dan SMA Negeri 6 Jakarta akhirnya memilih untuk berdamai dalam mediasi yang difasilitasi Dewan Pers, Jumat (23/9).
Kedua belah pihak memutuskan untuk tidak meneruskan peristiwa tawuran yang terjadi Senin (19/9) tersebut ke jalur hukum.
"Keduanya saling menyadari masing-masing memberikan kontribusi terhadap tawuran tersebut. Jadi keduanya memilih damai," ungkap Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Pers Agus Sudibyo seusai penandatanganan kesepakatan damai di gedung Dewan Pers.
Dalam pertemuan yang berlangsung sejak pukul 13.30 dan selesai pada pukul 18.00 tersebut disepakati lima poin perdamaian.
Pertama, kedua pihak sepakat bersikap kooperatif mendukung kepolisian mengusut kejadian perampasan kaset milik wartawan Trans7 yang terjadi pada Jumat (16/9).
Kedua, pihak-pihak saling menyadari kontribusi atas terjadinya kekerasan yang terjadi pada Senin (19/9) dan sepakat menempuh perdamaian dan saling memaafkan. Kedua pihak sepakat tidak membawa kasus ini ke ranah hukum.
Ketiga, SMA Negeri 6 Jakarta berkomitmen menghargai kebebasan pers yang sesuai dengan UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Keempat, pihak wartawan berkomitmen menghargai SMA Negeri 6 sebagai badan publik yang melakukan tugas pendidikan.
Dan kelima, Dewan Pers akan menangani pengaduan dari SMA Negeri 6 tentang pemberitaan pers terkait kekisruhan yang terjadi Senin (19/9), yang dianggap tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik.
Kepala SMA N 6 Jakarta Kadarwati Mardiutama menyatakan siap melaksanakan semua butir kesepakatan. "Saya sepakat. Kami terbiasa terbuka, nanti saat apel upacara senin nanti kami umumkan (hasil mediasi)," ucapnya.
Dalam pertemuan tersebut, Yudhistiro Pranoto, fotografer seputar Indonesia yang menjadi salah satu korban memberikan CD berisi rekaman pengeroyokan atas dirinya.
Dalam video tersebut ia mengatakan nampak seorang pria bersafari biru yang diduga oknum guru ikut memprovokasi. "Saya minta guru itu diberi sanksi," pintanya.
Sayangnya pihak SMA 6 menegaskan tidak akan menanggapi usaha-usaha untuk membuka kembali tawuran tersebut. Video tersebut tidak akan diproses.
Kedua belah pihak memutuskan untuk tidak meneruskan peristiwa tawuran yang terjadi Senin (19/9) tersebut ke jalur hukum.
"Keduanya saling menyadari masing-masing memberikan kontribusi terhadap tawuran tersebut. Jadi keduanya memilih damai," ungkap Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Pers Agus Sudibyo seusai penandatanganan kesepakatan damai di gedung Dewan Pers.
Dalam pertemuan yang berlangsung sejak pukul 13.30 dan selesai pada pukul 18.00 tersebut disepakati lima poin perdamaian.
Pertama, kedua pihak sepakat bersikap kooperatif mendukung kepolisian mengusut kejadian perampasan kaset milik wartawan Trans7 yang terjadi pada Jumat (16/9).
Kedua, pihak-pihak saling menyadari kontribusi atas terjadinya kekerasan yang terjadi pada Senin (19/9) dan sepakat menempuh perdamaian dan saling memaafkan. Kedua pihak sepakat tidak membawa kasus ini ke ranah hukum.
Ketiga, SMA Negeri 6 Jakarta berkomitmen menghargai kebebasan pers yang sesuai dengan UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Keempat, pihak wartawan berkomitmen menghargai SMA Negeri 6 sebagai badan publik yang melakukan tugas pendidikan.
Dan kelima, Dewan Pers akan menangani pengaduan dari SMA Negeri 6 tentang pemberitaan pers terkait kekisruhan yang terjadi Senin (19/9), yang dianggap tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik.
Kepala SMA N 6 Jakarta Kadarwati Mardiutama menyatakan siap melaksanakan semua butir kesepakatan. "Saya sepakat. Kami terbiasa terbuka, nanti saat apel upacara senin nanti kami umumkan (hasil mediasi)," ucapnya.
Dalam pertemuan tersebut, Yudhistiro Pranoto, fotografer seputar Indonesia yang menjadi salah satu korban memberikan CD berisi rekaman pengeroyokan atas dirinya.
Dalam video tersebut ia mengatakan nampak seorang pria bersafari biru yang diduga oknum guru ikut memprovokasi. "Saya minta guru itu diberi sanksi," pintanya.
Sayangnya pihak SMA 6 menegaskan tidak akan menanggapi usaha-usaha untuk membuka kembali tawuran tersebut. Video tersebut tidak akan diproses.
( Sumber : MetroTVnews )
Follow @BlogAB
Posted by Unknown
on 14.24. Filed under
Kekerasan,
Nasional,
Pendidikan
.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0.
Feel free to leave a response
Artikel Menarik Lainnya:
Nasional
- Acara 'Hitam Putih' Trans 7 Berhenti Tayang
- Foto: Jembatan Kutai Kartanegara Ambruk
- Timnas Indonesia Trending di Twitter, Mengapa Kata "NDONES"?
- Pakar Telematika Ungkap Keanehan SMS Vote Komodo
- Di Jatim Ditemukan Bangunan Mirip Piramida
- Pulsa Indosat Mendadak Hilang Secara Serentak
- Video: Bendera 1000 Meter Persegi Dikibarkan di Dasar Laut
- Video: Pria Tua Dibekuk di Depan SBY
- UNESCO Ancam Coret Candi Borobudur
- Kirim SMS Komodo 9818 Tidak Sedot Pulsa
Pendidikan
- Wow!! IQ Bocah 12 Tahun Ini Kalahkan Einstein dan Hawking
- Alamak! Ada Sekolah yang Muridnya ke Toilet Dua Bulan Sekali
- Wow! Sekolah ini Bagikan iPad 2 Gratis ke 1.200 Siswa
- Video: Guru Vini Mengajar, Murid Histeris
- Foto: Ruang Kelas Tembus Pandang di Jepang
- Inilah Rekaman Kekerasan Siswi SMP di Lampung
- Video: Pemukulan Guru MTSN Kota BIMA Oleh Muridnya
- Video Guru Tendang Murid Beredar
- Gilang Perdana Terancam 7 Tahun Penjara
Kekerasan
- Astaga!! Beredar Video Wanita Dikubur Hidup-hidup di Youtube
- 9 Judul Buku Dilarang Beredar di Toko Buku
- Dokter Keluarga di Kanada Paling Banyak Melanggar Disiplin
- Perkosa 37 Perempuan, Pria Ini Dihukum Gantung
- Gadis Ini 'Bangkit' dari Kubur Usai Diperkosa
- Inilah Rekaman Kekerasan Siswi SMP di Lampung
- Video: Pemukulan Guru MTSN Kota BIMA Oleh Muridnya
- Puluhan Orangutan Dibantai di Kutai Kartanegara
- Video: Pembuangan 35 Mayat di Veracruz
- Video Guru Tendang Murid Beredar